Sarapan q hari ini di temani berita pagi di salah satu stasiun televisi. Masi tema yang biasa: perampokan, pembunuhan, tabrakan, bencana alam, sesekali ada bayi yang dibuang dan yang cukup sering tentang penggusuran oleh satpol PP (PP? bukan Pulang-Pergi kan?)
Terlalu sering direcoki berita macam itu harus hati-hati. Bisa membuat terbiasa dan hati menjadi kebas. Jangan sampe ketika mendengar berita pembunuhan, kita dengan entengnya bilang,” oh ya? Emang sapa lagi yang dibunuh?”. Tanpa simpati dan belasungkawa. Sungguh suatu bencana.
Suapan q terhenti ketika mendengar suara yang menghiba “Tolong pak, jangan bawa ban saya,,,”. Suaranya bener-bener menghiba, dan terluka.
Sekarang 100% konsentrasi q ke TV. Suara itu berasal dari seorang bapak tua penambal ban. Kalimatnya berkali-kali di ulang, dan
Ya ALLAH……
Bapak itu mencoba menahan ban-bannya dengan seluruh berat badannya sementara 2 satpol pp mengangkat, ah menyeret lebih tepatnya, sang bapak sekaligusnya bannya tanpa perasaan. 2 satpol pp yang lain mencoba melepaskan si bapak dengan paksa.
Bliau menghiba, meratap, merintih ,” nanti saya nyari uangnya gimana pak? Nanti keluarga saya makan apa? “. Airmatanya sudah tak terbendung, bgitu juga air mata q. berkali-kali aq istighfar. Tak habis pikir kenapa satpol pp tak tersentuh hatinya melihat si bapak. Tak terbayangkah seandainya si bapak itu orang tuanya.
Si bapak tua masi berusaha mengambil bannya yang sudah ada di atas mobil satpol pp. namun perlawanannya melemah, tenaganya tersedot oleh kesedihan dan kemarahan. Bliau lalu berlutut putus asa, dan berita lainnya muncul.
Aq tak lagi tertarik memandang berita TV. Sarapan berhasil ludes hanya karna rasa wajib : g boleh menyia-nyiakan makanan. Hari ini, aq yakin akan banyak orang yang lebih mensyukuri hidupnya setelah melihat berita itu.
Tampilkan postingan dengan label satpol pp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satpol pp. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
